Masa menyusui merupakan masa yang sangat membahagiakan bagi ibu dan bayi. Ketika bayi menghisap ASI melalui puting susu, rasa kehangatan dan kasih sayang ibu akan tercurah pada sibuah hati (Diah, 2000). ASI mengandung banyak faktor non nutrisi yang membantu melindungi dan merawat bayi selama bulan-bulan pertama kehidupan (Moody, 2006). Pemberian ASI berarti memberi zat-zat gizi yang bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan otak, memberikan zat – zat kekebalan terhadap penyakit dan ikatan emosional antara ibu dan bayinya (www.ghozansehat, 2007).
Seorang ibu dikodratkan untuk dapat memberikan air susunya kepada bayi yang telah dilahirkannya, dimana kodrat ini merupakan suatu tugas yang mulia bagi ibu itu sendiri demi keselamatan dari bayi dikemudian hari (Manuaba, 1998). Sejak seorang wanita memasuki kehidupan keluarga, padanya harus sudah tertanam suatu keyakinan : ”Saya harus menyusui bayi saya, karena menyusui adalah realisasi dari tugas yang wajar dan mulia dari seorang ibu “. Sayang sekali keyakinan diatas, khususnya di kota-kota besar, terlihat adanya tendensi penurunan pemberian ASI, yang dikhawatirkan akan meluas ke pedesaan (Soetjiningsih, 1997).
Menurut WHO pemberian ASI Eksklusif 6 bulan disejumlah kota besar di Indonesia ternyata masih rendah. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannya hanya 25 % – 80 %. Menurut Dinas Kesehatan Kota Kediri, pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannya di Jawa Timur tahun 2007 hanya 42,6% (Dinas Kesehatan, 2007). Lebih buruk lagi di daerah kumuh perkotaan (Jakarta, Makasar, Surabaya), pemberian itu hanya sampai 40 %. Bahkan ada bayi yang baru berumur 2 minggu sudah diberikan makanan lain. Proporsi pemberian ASI pada bayi kelompok usia 0 bulan sebesar 73,1 %, 1 bulan 55,5 %, 2 bulan 43 %, 3 bulan 36 % dan kelompok usia 4 bulan 16,7 %. Dengan bertambahnya usia bayi terjadi penurunan pola pemberian ASI sebesar 1,3 kali atau sebesar 77,2 %. Menurut hasil data Survey Sosial Ekonomi Nasional tahun 2006 di Kediri hanya 12,50 % pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannaya (Badan Pusat Statistik, 2006).
KODE FILE : KBID005.rar
Related posts:
- KTI Kebidanan : “HUBUNGAN MOTIVASI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK TERHADAP KEADAAN PSIKOLOGI IBU MENOPAUSE DI DESA WONOSARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAGU KABUPATEN KEDIRI”
- KTI Kebidanan : “GAMBARAN SIKAP IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG HUBUNGAN SEKSUAL SELAMA KEHAMILAN DI BPS NY. KATMINAH MOJOROTO KEDIRI”
- KTI Kebidanan : “KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMPSIA – EKLAMPSIA DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI PERIODE 1 JANUARI–31 DESEMBER 2007″
- KTI Kebidanan : “GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA PEKERJA SEKS KOMERSIAL TENTANG PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI EKS LOKALISASI KELURAHAN SEMAMPIR KOTA KEDIRI”
- Skripsi Akuntansi-HUBUNGAN PEMBAGIAN KERJA DAN WEWENANG KARYAWAN TERHADAP PRESTASI KERJA PADA BANK BUKOPIN CABANG PALEMBANG BULAN MEI 2007





